Read and Share

Senin, 22 Agustus 2022

Bolehkah Mengambil Nafas di Tengah-tengah Membaca Al-Quran?


    
Dalam membaca Al-Quran, ada beberapa yang perlu diperhatikan, yang Pertama ibtida yaitu memulai bacaan setelah berhenti ataupun baru memulai, disini kita harus bisa memilih kata yang tepat untuk memulai. Kedua washal yaitu menyambung dua bacaan yang dipisah oleh tanda-tanda baca. Ketiga waqaf yaitu berhenti bacaan untuk mengambil nafas dan memulai lagi bacaan. Keempat saktah yaitu berhenti sejenak tanpa bernafas kemudian melanjutkan bacaanya. 

Ada beberapa istilah yang dikenal dalam waqaf  :

  1. Waqaf Ikhtibari yaitu waqaf pada suatu kalimat karena ingin menerangkan hukum kalimat tersebut dari sudut penulisannyapada mushaf, apakah kalimat tersebut maqtu' atau mausul, tsabit ataukah mahfudz dan lain-lainnya.
  2. Waqaf Intidhari yaitu waqaf yang dilakukan pada suatu kalimah dengan tujaun menyambungkan dengan bacaan (qiroah) lain. hal ini dilakukan oleh orang yang membaca al-Quran dengan beberapa riwayat lain.
  3. Waqaf Idhtirari yaitu waqaf yang dilakukan karena terpaksa, seperti sesak nafas, tidak mampu, lupa kehabisan nafas. dengan catatan harus mengulang dari awal kalimat.
  4. Waqaf Ikhtiyari yaitu waqaf yang dilakukan bukan karena sebab-sebab yang telah disebutkan diatas,   artinya dilaksanakan dengan disengaja dan direncanakan bukan karena sebab sebab lain.

  Realitas dilapangan tidak semua orang dapat membaca Al-Quran dengan waqaf sesuai kriteria diatas. Lantas bagaimanakah hukum mengambil nafas ditengah-tengah membaca ayat Al-Quran? menjawab masalah ini, ulama berbeda pendapat, Syeikh Al Halwani memiliki pandangan bahwa cara membaca demikian adalah salah, sedangkan menurut mayoritas ulama tidak apa apa dan tidak masalah karena sudah sering terjadi dan sukar untuk dihindari dikalangan umat.

واما الحكم في قطع بعض الكلمة عن بعض بأن أراد ان يقول الحمدلله فقال ال فانقطع نفسه أو نسي الباقي ثم تذكر فقال حمد لله أو لم يتذكر فترك الباقي وانتقل الى كلمة أخرى فقد كان الشيخ الامام شمس الأمة الحلواني يفتي بالفساد في مثل ذلك وعامة المشايخ قالو لاتفسد لعموم البلوى في اانقطاع النفس والنسيان

__________

Referensi: (Nihayatu Qauli al-Mufid, hal 166).

Sabtu, 20 Agustus 2022

Sebab Menutup Aib, Allah Mengangkatnya Menjadi Seorang Wali (Kisah Hatim Al-Asham)

      


       Pada abad ketiga Hijriah tersebut nama seorang ulama besar bernama Syekh Hatim bin Ulwan Al-Asham (wafat 237 H) di daerah Khurasan. Ia menjadi rujukan dan tempat bertanya masyarakat di zamannya baik laki-laki maupun perempuan. Ia dipilih oleh masyarakat karena ketinggian ilmu dan keluhuran pekertinya. 

     Syekh Hatim bin Ulwan mewakafkan dirinya untuk masyarakat, pintu rumahnya selalu terbuka kapan saja, untuk masalah apa saja, dan bagi siapa saja tanpa memandang kelas sosial, jenis kelamin, dan usia masyarakat. Pengabdian ini ia jalani selama puluhan tahun tanpa pamrih.

    Pada suatu ketika seorang perempuan mendatangi Syekh Hatim bin Ulwan untuk berkonsultasi atas problematika yang sedang dia hadapi. Diawali dengan basa-basi pembukaan, perempuan ini menceritakan kronologi permasalahannya panjang lebar. Namun, di saat itu ia merasakan keganjilan dalam perutnya. Angin panas dari dalam tubuhnya mendesak-desak untuk keluar. Ia ingin kentut. Dengan sekuat tenaga ia menahannya agar tidak keluar di hadapan seorang ulama besar yang disegani masyarakatnya. Alhamdulillah ia berhasil meredakan gejolak itu.

   Ia meneruskan cerita dengan sedikit gelisah. Ia kemudian menjelaskan masalah seperlunya. Karena kehilangan konsentrasi, ia mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan. Tetapi malang, suara kentut dari duburnya terdengar persis di ujung kalimat pertanyaan. Angin panas itu nyeplos. Wajahnya merah karena malu. Ia kehilangan muka. Semua sikapnya menjadi salah. Mau sekali rasanya ia mati di tempat. Ia merasa telah menghina ulama besar yang dihormati penduduk seisi Khurasan di hadapannya. Ia memastikan Syekh Hatim bin Ulwan mendengar suara kentut tersebut.

      Ia menunggu cemas kalimat yang keluar dari Syekh Hatim bin Ulwan. Adapun Syekh Hatim bin Ulwan yang sejak awal mendengarkan perempuan itu sambil mengusap-usap dagunya sempat terkejut. Tetapi ia berhasil menjaga sikap seolah tidak terjadi apa pun. Ia yakin tamunya tidak melakukan hal tidak sopan itu dengan niat dan sengaja. Ia tahu persis perempuan di hadapannya merasa bersalah hebat.

   Ia berpikir keras untuk mengembalikan harga diri tamunya. Ia tidak sampai hati membiarkan tamunya pulang dengan rasa bersalah secara moral. Segera saja terpikir olehnya untuk bersikap sebagai seorang tua yang kurang pendengaran. Ia meminta tamunya untuk mengulang pertanyaan tersebut. Ia memperlihatkan diri sebagai seorang tua yang tuli di hadapan tamunya.
“’Bisa diulang lebih keras,’ 
kata Hatim bin Ulwan. Kalimat permintaan dari Syekh Hatim bin Ulwan itu melegakan pikirannya. 

   Mengetahui tuan rumah kurang pendengaran karena tuanya, betapa puas hatinya. Kepercayaan dirinya datang kembali. Ia yakin Syekh Hatim bin Ulwan juga tidak mendengar kentutnya. Ia kemudian mengulangi pertanyaannya. Sejak saat itu Syekh Abu Abdirrahman Hatim bin Ulwan yang wafat pada tahun 237 H dijuluki Syekh Hatim bin Ulwan Al-Asham atau Syekh Hatim Al-Asham dan karena menghormati tamunya dan menjaga perasaannnya maka Allah menjadikan Hatim Al Asham sebagi walinya dan terkenal dibelahan dunia. Secara harfiah Syekh Hatim Al-Asham berarti Syekh Hatim yang tuli. Semua ini dilakukannya dalam rangka menjaga kehormatan tamunya.

Dikisahkan oleh Syekh Abu Ali Ad-Daqqaq yang dikutip oleh Syekh Nawawi Banten 

(Lihat :Syarah Qami‘ut Thughyan, halaman 22)

Jumat, 19 Agustus 2022

Sultan Muhammad Al-Fatih (Sang Penakluk Romawi Timur)

        

          


           Kalau ada sosok yg di tunggu-tunggu kedatanganya sepanjang sejarah islam, dimana setiap orang ingin menjadi sosok itu, maka dia adalah sang penakluk kostantinopel, bahkan para sahabat Nabi sendiripun berebutan ingin menjadi seorang yang di ceritakan Nabi SAW dalam sabdanya, betapa tidak, beliau Nabi SAW, memang betul-betul memuji sosok itu. Beliau bersabda “Kota Kostantinopel akan jatuh ke tangan islam. pemimpin yang menaklukkanya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (HR. ahmad bin Hambal Al-Musnad
  (4/335).

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dia ditanya: kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Kostantinopel atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya, kemudian dia mengeluarkan kitab, Abdullah berkata: ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah SAW, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dahulu: Kostantinopel atau Rumiyah/Roma? Rasul menjawab “Kota  Heraklius dibuka lebih dahulu” Yaitu: Kostantinopel. (HR. Ahmad ad-Darimi, ibn Abi Syaiban dan al-Hakim). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim, Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara Abdul Ghani al- Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (lihat al-Silsilah al-Sahihah 1/3, MS).

Ada dua kota yang disebut dalam nubuwat nabi di hadits tersebut;

    1)    Kostantinopel Kota yang hari ini di kenal dengan nama istanbul, turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Orthodoks. Tahun (857 H./1453 M.) kota dengan benteng legendaris tak tertembus, akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, Sultan ke-7 Turki Utsmani.

    2) Rumiyah Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang di maksud adalah ibu kota italia hari ini, yaitu roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.

Kostantinopel telah dibuka 8 abad setelah Rosulullah menjajnjikan nubuwwat tersebut. Tetapi Roma, hingga hari ini belum  kunjung terlihat bisa di buka oleh muslimin. ini menguatkan pernyataan Nabi dalam hadits di atas. Bahwa muslimin akan membuka Kostantinopel lebih dulu, aru Roma. Itu artinya sudah 15 abad sejak Rosul menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukkan Roma, hingga kini belum juga Roma jatuh ke tangan muslim.

Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katolik Roma di vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Costantinople yang kini menjadi Istambul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Costantine The Great memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibu kota, dengan alasan strategis di batas eropa dan asia, baik darat sebagai salah satu jalur sutera maupun di laut antara laut Tengah dan laut hitam dan di anggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.  

Yang mengincar kota ini untuk di kuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab Muslim dan pasukan salib meskipun misi awalnya adalah menguasai jerussalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga kepercayaan Rosululllah SAW melalui riwayat di atas. Sayangnya, prestasi yang satu itu, yaitu menaklukkan kota kebanggaan bangsa Romawi, Kostantinopel, tidak penah ada yang mampu melakukannya, Tidak dari kalangan sahabat, tidak juga dari kalangan tabi`in, tidak juga dari kalangan khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.

Di masa sahabat, memang pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah satu anggota  pasukannya di kuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu ayyub Al-Anshari ra. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat islam sampai 800 tahun lamanya. Kostantinopel memang sebuah kota yang sangat kuat, dan hanya sosok yang kuat pula yang dapat menaklukannya. Sepanjang sejarah kota itu menjadi pusat peradaban barat, dimana Kaisar Heraklius    bertahta. adalah penguasa Romawi yang hidup pada zaman Nabi  SAW, bahkan menerima  langsung surat ajakan masuk islam dari beliau SAW. Ajakan Nabi SAW kepada sang kaisar memang tidak lantas di sambut dengan masuk islam, namun juga tidak bermusuhan, atau setidaknya tidak mengajak kepada peperangan.

Foto: Sultan Muhammad Al Fatih

Biografi Singkat

Sultan Mehmed II atau juga di kenal sebagai Muhammad Al-Fatih (bahasa Turki Ottoman: Mehmet-I sani,) juga di kenal sebagai el-Fatih ‘’ Sang penakluk ‘’. Sultan Muhammad 2 di lahirkan pada29 maret 1432 M. di adrianapolis (perbatasan Turki-Bulgaria). Menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 – 1481 ).      Beliau merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 7 bahasa yaitu Bahasa Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia dan israil. Shalat fardu, Shalat Sunnat Rawatib dan Shalat Tahajjudsejak baligh. Beliau wafat pada 3 Mei 1481 karena sakit gout sewaktu dalam perjalanan jihad menuju pusat Imperium Romawi Barat di Roma, Italia. Dari sudut pandang islam, ia di kenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu” setelah Sultan Salahudin Al-Ayyubi( pahlwan islam dalam Perang Salib ) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di “Ain Al-Jalut” melawan tentara Mongol)

Usaha Sultan dalam Menaklukkan Kostantinopel

Istanbul atau yang dulu di kenal sebagai Kostantinopel, adalah salah satu kota termashur dunia, kota ini tgercatat dalam tinta emas sejarah Islam khusunya pada masa Kesultanan Utsmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh islam di banyak Negara. Kota ini didirikan tahun 330 M. oleh Maharaja Byzantium yakni Costantine 1. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Byzantium. Rasulullah SAW juga telah bebrapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan Islam seperti dinyatakan Rasulullah Saw pada perang Khandaq.

Para Khalifah dan pemimpin islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H. di zaman Mu`awiyah bin Abi Sufyan Ra. Akan tetapi, usaha itu gagal Upaya yang sama juga di lakukan pada zaman khilafah Mu`awiyah. Di zaman  pemerintahan Abbasiyah beberapa usaha di teruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid tahun 190 H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H. Usaha menawan Kostantinopel di teruskan oleh kerajaan kerajaan kecil di asia timur (Anatolia) Terutama kerajaan Seljuk. Pemimpinnya Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus 4/ Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal kurun ke 8 hijriah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini member nafas baru kepada usaha umat islam untuk menguasai Kostantinopel. Usaha pertama di buat di zaman Sultan Yildirim Bayazid saat dia mengepung kota itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah di gunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Byzantium menyerahkan Kostantinopel secara aman kepada Umat Islam. Akan tetapi, usahanya  menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan Bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Selepas Daulah Utsmaniyah mencapai pekembangan lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad 2 (824-863 H/ 1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi penghianatan di pihak umat islam. Kaisar Byzantium menanam benih fitnah dan mengkocar-kacirkan barisan umat Islam. Usaha Sultan Murad 2 tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed 2), Sultan ke 7 Daulah Utsmaniyah.

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/ 1451 M, dia telah memulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota Kostantinopel tadi kekuatan Sultan Muhammad al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia di didik secara intensif oleh para “ ulama terulung di zamanya. Di zaman ayahnya , yaitu sultan Murad 2, As-Syeikh Muhammad bin Isma`il Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad 2 telah menghantar berapa orang” ulama untuk mengajar  anaknya sebelum itu, tetapi tiddak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya. Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang di berikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu di pukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas  setelah itu dia terus menghafal Al-Qur`an dalam waktu yang singkat. Disamping itu, Asy-syeikh Aaq Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammmad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti al-Qur`an, hadits, fiqih, bahasa (arab, Parsi, dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya. Syeikh Aaq Syamsuddin lantas meyakinkan Amir Muhammad  bahwa dia adalah orang yang di maksudkan Rosulullah SAW. Di dalam hadits pembukaan Kostantinopel.

Hari jumat, 6 april 1453 M , Muhammad 2 bersama gurunya  Syeikh Aaq Syamsuddin, beserta tangan kanannya Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Kostantinopel dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 250.000 ribu pasukan dan meriam-teknologi baru pada saat itu, Para Mujahid lantas di berikan latihan intensif dan selalu di ingatkan akan pesan Rosulullah SAW terkait pentingnya Kostantinopel bagi kejayaan Islam. Muhammad 2 mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai dan membayar upeti atau pilihan terakhir yaitu perang. Costantine menjawab bahwa dia tetap akan mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-fatih  tiba di kota Kostantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H/ 6 april 1453 M. Di hadapan tentaranya, sultan Muhammad Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur`an mengenainya serta hadis Nabi SAW. Tentang pembukaan kota Kostantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentara dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada allah SWT.

Foto: Bagian yang telah direstorasi dari benteng pertahanan yang melindungi Konstantinopel 

Kota dengan benteng >10m tersebut memang sulit di tembus, selain di sisi luar benteng pun di lindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng 2 lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Geonea pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah di lindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat. Berhari-hari hingga beminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah maka pasukan Costantine langsung mempertahankan celah tersebut dan cepat menutupnya kembali. Usaha lainpun di coba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh di lakukanya dalam waktu semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui Teluk Golden Horn yang sudah di rantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan , dengan memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam  semalam dan 70an kapal bisa memasuki Teluk Golden Horn  ( ini adalah ide “tergila” pada masa itu namun Taktik ini diakui sebagai antara taktik peperangan (warfare strategy) yang terbaik di dunia oleh para sejarawan Barat sendiri ). 70 kapal di tarik melewati bukit di daerah Galata untuk masuk ke Teluk Horn yang di hadang rantai.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Byzantium di sana. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!!!” terus membahana di angkasa Kostantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu. Pada 27 mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa dan dzikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari selasa 20 Jumadil Awal 857 H. atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M. setelah sehari istirahat perang, Pasukan  Turki Utsmani di bawah komando Sultan Muhammad 2 kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan irregular di lapis pertama, Anatolian army di lapis ke2, dan terakhir pasukan elit Yanisari.

Giustiniani sudah menyarankan Costantine untuk mundur atau menyerah tapi Costantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan, Kabarnya Costantine melepas baju perang kerajaanya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah di temukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoanya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata. Dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Para Mujahidin di perintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota, Tentara Utsmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Kostantinopel melalui pintu Edirne dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara al-Fatih, akhirnya Berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

Kostantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia/ aya Sofiya, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Yahudi maupun Kristen karena mereka (penduduk) termasuk non Muslim dzimmy (kafir yang harus di lindungi karena membayar jizyah/pajak ), muahad (yang terikat perjanjian). Dan musta`man (yang dilindungi seperti pedagang antara Negara) bukan harbi ( kafir yang harus di perangi ), Kostantinopel di ubah namanya menjadi islambul (islam keseluruhanya). Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaiman fungsinya agi penganutnya.

Toleransi tetap di tegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun sekolah gratis, siapapun boleh belajar, tak ada pebedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, membangun rumah sakit, bahkan rumah di berikan gratis bagi pendatang di kota itu dan mencari nafkah di sana. Hingga akhirnya kota tersebut di ubah menjadi Istanbul, dan pencarian makam Abu Ayyub Al-Anshari di lakukan hingga di temukan dan dilestarikan. Dan kini Hagia Sophia sudah berubah menjadi museum.dan pada tahun 2020 Hagia Sophia dijadikan Masjid kembali.

Foto: Hagia Sophia


Kamis, 18 Agustus 2022

Semarak Lomba Menyambut Hari Kemerdekaan

Semarak Lomba Menyambut Hari Kemerdekaan
Foto: Santri sedang persiapan ikut lomba.
Setiap tahun tepatnya tanggal 17 Agustus, semua rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya, mereka sangat antusias dalam perayanaanya, banyak baliho dan bendera dikibarkan dipinggir jalan, disamping juga mengadakan berbagai kegiatan salah satunya lomba, karnayal dan acara seperti yasinan dan istighasah sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Pada tahun ini, Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke 77 tahun. sebenarnya manusia adalah mahluk diciptakan oleh Allah dengan begitu istimewa dibanding dengan mahluk lainnya, oleh karenanya Allah berfirman dalam Al Qur'an :

 ولقد كرمنا بني ادم وحملناهم في البر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن  خلقنا تفضيلا

     Artinya: Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami memberi mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan. (Al-Isra' ayat 7)

Temasuk dari bentuk memuliakannya Allah kepada manusia adalah diciptakannya manusia dengan naluriah merdeka, jadi kemerdekaan manusia dalah kunci kemuliaan manusia, maka sebagai langkah yang bijaksana kita harus mensyukuri atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita semua, terutama nikmat yang selalu kita rasakan semenjak 77 tahun yang lalu. mengenai tentang syukur, sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam kitab Fath Al-Qorib Al-Mujib 'ala Tahdzibi At-Targhib wat At-Tarhib memberikan penjelasan. agar syukurnya menjadi sempurna yaitu; Ilmu, Hal, dan Amal. 

Ilmu disini adalah mengetahui bahwa adanya nikmat Allah yang diberikan oleh Allah, dalam hal ini merupakan kita harus mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia meurpakan bagian nikmat agung  Allah yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Sebab dengan kemerdekaan kita bisa hidup aman dan tenteram. Hal adalah rasa bahagia dengan adanya nikmat Allah yang telah diberikan. Amal adalah bentuk ekspresi rasa sukur kita kepada Alah, hal ini bisa dilaksanakan denga hati, keinginan untuk mengisi kemerdekan dengan kebaikan dan mempertahankan kemerdekaan 

Foto: Santri kelas i'dadiyah yang mengikuti lomba makan kerupuk.

Pada hari Kamis tanggal 18 Agustus setelah berselang 1 hari pasca upacara memperingati hari kemerdekaan, yayasan pendidikan islam Miftahul Anwar mengadakan lomba yang diikuti oleh santri santri Madrasah Diniyah Miftahul Anwar, terlihat beberapa santri yang sangat antusias mengikuti lomba tersebut, lomba yang diikuti seluruh partisipan seperti kelas Isti'dadiyah dan Ibtidaiyah, bahkan kelas ustha dan ulya pun ikut turut meramaikan lomba, dimulai dengan lomba makan krupuk dan lomba balap karung. Bahkan beberapa wali santri turut menyaksikan keseruan pertandingan.

Sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kemerdekaan kepada kita, dimana sebelumnya kita dijajah beberapa abad lamanya. Alhamdulillah dengan takdir Allah kita senantiasa mampu untk menjadi bangsa yang merdeka, mampu menentukan nasib sendiri meskipun jalan yang ditempuh tidak semudah yang kita kira. Indonesia merdeka, tepatnya setelah Presiden Pertama Republik Indonesia setelah memebacakan teks proklamasi pada hari Jumat 17 Agustus 1945.

Sebelum rangkaian lomba berlangsung, dari kemaren sudah diadakan acara istighasah dan membaca shalawat burda mengenang para pahlawan bangsa yang telah gugur dimedan pertempuran semasa memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kesunahan Membaca Surah Al-Kahfi


    Surat Al-Kahfi merupakan surat kedelapan belas dalam Al-Quran, Surat Al-kahfi memiliki keistimewaan sendiri diantara surat-surat yang lainnya, hal ini ssebutkan oleh rasulullah sendiri dalam beberapa hadits, antara lain:

 عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثَرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ، فّإنَّ صّلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ .صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟- أي بَلِيْتَ- قَالَ: إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأرْضِ أنْ تَأكُلَ أجْسَادِ الْأنْبِيَاءِ. سنن ابن ماجه

     Artinya: Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya hari yang paling mulia bagi kalian adalah Jumat. Pada hari itu Nabi Adam AS diciptakan, di hari itu ditiupkan ruh, dan pada hari itu dilaksanakan siksaan. Karena itu maka perbanyaklah membaca shalawat kepadaku. Sebab shalawat yang kamu baca pada hari itu akan didatangkan kepadaku. Lalu sahal seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana mungkin shalawat yang kami baca itu bisa dihadapkan kepadamu, padahal engkau telah hancur dimakan bumi? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi-Nya. (HR Ibnu Majah, 1075)

Di antara amalan yang dianjurkan juga adalah membaca surat Al-Kahfi pada malam dan hari Jumat:

 عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُذْرِيّ قَالَ مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Said al-Khudri, ia berkata: Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, maka Allah SWT akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan rumah yang penuh dengan keindahan. (Sunan Ad-Darimi, 3273).


    Membaca shalawat dan membaca surat Al-Kahfi pada malam atau hari Jumat itu sunah. Dalam hal ini DR Muhammad Bakr Isma’il menyatakan, seorang muslim disunahkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi SAW pada malam hari Jumat. Begitu juga sunah membaca surat Al-Kahfi pada malam dan hari Jumat.


__________

Referensi: (Al-Fiqh al-Wadhih Min al-Kitab wa as-Sunnah, hal. 241).